Jumat, 29 April 2011

Pendidikan Berbasis Bhineka Tunggal Ika

Oleh: Qurroti A’yun, S.Pd.I.*

Sebuah bangsa dan masyarakat tidak akan pernah mendapatkan kemajuan tanpa pendidikan. Kiranya komitmen dan cara pandang seperti inilah yang seharusnya dimiliki dan tertanam dalam pikiran semua orang dalam suatu bangsa. Karena pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital bagi pembentukan karakter sebuah peradapan dan kemajuan yang mengiringnya. Karena itu, sebuah peradapan yang memperdayakan akan lahir dari suatu pola pendidikan dalam skala luas yang tepat guna dan efektif bagi konteks dan mampu menjawab segala tantangan zaman.
 Bangsa Indonesia, yang sejak dulu dikenal sebagai negeri yang majemuk, kemajemukan yang menjadi landasan berkehidupan dan berkebangsaan yang telah membuat bangsa kita ini menjadi bangsa yang besar. Dengan berdiri di atas segala perbedaan baik dalam hal agama, suku, dan ras. Karena itu, perbedaan dan kemajemukan ini harus dinikmati dan disyukuri dengan membentuk sebuah peradapan yang inklusif dan toleran dalam segala sendi kehidupan.
 Namun, fenomena yang kita lihat di negeri kita ini justru menggugurkan kesan dan karakter yang disandarkan atas bagsa Indonesia tersebut. Bagaimana tidak, setelah kita melihat kenyataan peradapan yang ada, masih megedepankan pola pikir emosional-ekskusivitas. Akibatnya pola hidup inklusif menjadi sangat langka dan kalau pun ada akan sangat mahal untuk bisa diwujudkan.
 Bertolak pada kenyataan di atas, tentu kita harus kembali kepada pendidikan, yang yang salah satunya adalah pendidikan pluralis-multikultural, yang akan selalu mengedepankan praktik kehidupan inklusif-toleran segala perbedaan, apa pun perbedaannya. Bagaimanapun juga pedidikan semacam ini memiliki konstribusi dan nilai yang signifikan untuk membangun pemahaman dan juga kesadaran terhadap substansi dan nilai-nilai pluralis dan multikulturalis. Disamping itu, pedidikan sejenis ini juga merupakan salah satu media yang paling efektif untuk melahirkan generasi yang memiliki pandangan yang mampu menjadikan keragaman sebagai bagia yang harus diapresiasi secara konstruktif.
 Penjelasan yang utuh dan sistematis terkait dengan pendidikan multikultural baik secara konsep maupun aplikatif, diajukan oleh sebuah buku hasil karya dari dua orang ahli sekaligus praktisi dalam dunia pendidikan, yakni buku yang mereka beri judul “Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi”. Merupakan satu-satunya referensi wajib bagi orang-orang yang memang mau dan peduli akan kelestarian kebudayaan bangsa Indonesia, yang notabene adalah bangsa yang plural dan majemuk, dengan semangat nasionalisme yang kita punya “Bhineka Tunggal Ika”.
 Dalam kondisi seperti ini, kehadiran buku ini diharapkan mampu mengisi kekurangan dalam tema pendidikan berbasis pluralis-multikuktural. Karena dibandingkan dengan buku-buku lain yang masih berkutat secara teoritik, belum menyentuh dalam kerangka operasioal, buku ini secara detail membahas dasar-dasar pendidikan pluralis-multikultural beserta segala aspek teori dan kerangka operasionalnya. Dengan harapan terciptanya sebuah kehidupan yang harmoni, damai, selaras, dan berperadapan dengan mengedepankan semangat saling bekerjasama dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan serta menjahui segala bentuk kerusakan dan pertikaian.
 Selain itu, pendidikan jenis ini menekankan pada pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan agama. Sehingga kita mampu melihat kemanusiaan sebagai sebuah keluarga yang memiliki perbedaan maupun kesamaan cita-cita.
 Karena bagaimana pun segala perbedaan itu adalah rahmat dari Tuhan yang patut disyukuri dan dinikmati untuk kemudian dijadikan sebagai tonggak untuk berkehidupan yang humanis dan toleran. Jadi, kehadiran buku ini tentu saja sangat penting artinya bagi kehidupan berbangsa kita yang nampak eksklusif dan individualistis. Suatu bentuk kehidupan yang hanya mementingkan diri atau kelompoknya sendiri tanpa memandang diri atau kelompok lain yang juga membutuhkan kehidupan berdasarkan keyakinannya masing-masing dalam menjalani kehidupan ini.
 *) Qurroti A’yun, S.Pd.I.
 Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang dan Guru SD Bertaraf Internasional “Bani Hasyim”  Singosari Kab. Malang
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar